Mencari keikhlasan

Ibnu Mas’ud berkata: “Jadilah kalian sebagai sumber mata air ilmu; lampu-lampu (cahaya) petunjuk yang menetap di rumah-rumah; pelita di waktu malam yang hatinya selalu baru, yang kusut pakaiannya, dan dikenal oleh penduduk langit, tetapi tersembunyi dari penduduk bumi”.

Kronologi Lengkap Penangkapan dan Penganiayaan 4 Mahasiswa Indonesia di Mesir

Berikut kisah penangkap dan penyiksaan oleh intelejen Mesir yang dituturkan langsung oleh salah satu korban: Peristiwa terjadi pada hari Sabtu, tanggal 27 juni 2009 lalu, saat itu kami di rumah ada lima orang; saya (Fathurrahman-red), Muhammad Yunus, Arzil, Tasri Sugandi dan Jakfar-teman yang sedang bersilaturahmi ke rumah-. Adapun Ismail-seorang rekan rumah kami yang lain-sedang berlibur bersama teman-teman sedaerahnya asal Tapanuli Selatan ke bukit Sinai.

Sekamir pukul 02.30 dini hari waktu Cairo, rumah kami di datangi 12 orang Mabahist (polisi intelejen Mesir). Lima diantaranya berseragam lengkap dengan senjata laras panjang serta pistol. Sementara tujuh orang lainya berpakaian biasa. Salah seorang diantara mereka membawa linggis dengan panjang lebih kurang satu meter, seorang lain membawa alat penggunting kawat.

Setelah membunyikan bel rumah dengan cara yang tidak sopan sama sekali, akhirnya pintu kami buka dengan perasaan takut dan menegangkan. Ketika masuk salah seorang diantara mereka menanyakan pasport, sementara yang lainya langsung menggeledah rumah mencari sesuatu. Pistol dan senjata laras panjang langsung ditodongkan ke kepala kami.

Setelah lebih kurang 15 menit menggeledah, mereka tidak menemukan sesuatu yang dicari. Saya sempat menangkap pembicaraan salah seorang pimpinan mereka melalui telepon, bahwa, apa yang mereka cari tidak di temukan. Sebagian mabahis dimarahi komandannya dan diminta untuk mencari kembali apa yang mereka inginkan, kata pimpinan mereka “sudah kamu periksa apa-apa yang bisa dijadikan bukti dan bisa diambil?”. Tak lama kemudian kami diminta untuk menghidupkan semua komputer yang ada. Kebetulan terdapat tiga komputer di rumah. Komputer pertama di periksa, namun mereka tetap tidak menemukan apa-apa. Ketika hendak memeriksa yang kedua, mereka melihat ada bebarapa poster di dinding kamar. Diantaranya poster Syeikh Ahmad Yasin (pejuang palestina), silsilah Pemimpin Hamas.

Melihat itu ekspresi mereka seketika berubah, dan memerintahkan kami untuk mengambil gambar tersebut. Teman saya sempat diminta untuk melakukan hal itu, namun berhubung dia orangnya kurang gesit, langsung saja tiga pukulan keras dari Mabahits mendarat di punggungnya. Sepuluh menit berlangsung, mereka kembali menggeledah rumah dengan brutal dan mengambil beberapa buku karangan DR.Yusuf Qordhowi dan buku-buku lainya yang mereka anggap berbahaya.

Beberapa saat kemudian kami diperintahkan untuk bersiap-siap dan memakai sandal. Selanjutnya kami digiring ke lantai bawah. Disana kami disuruh membentuk barisan, jarak antara kami dan mobil tahanan saat itu kira-kira sekamir 30 meter. Ketika melangkah menuju mobil, satu persatu bagian belakang kepala kami tiba-tiba dihantam pukulan keras, saya tak tahu maksudnya apa dan hampir saja saya terjatuh, begitu juga dengan ketiga teman saya yang lain.

Ternyata di dalam mobil sudah ada seorang tahanan asal Kazakistan yang menunggu dengan mata di tutup kain. Alhamdulillah secara kebetulan saudara kami Jakfar yang masih berumur 16 tahun dibebaskan, dengan alasan belum cukup umur. Saya sempat berpesan kepada Jakfar untuk segera menghubungi Bang Fajar – seorang aktivis di kalangan mahasiswa Indonesia di Mesir-red) yang tinggalnya tak jauh dari rumah kami.

Tepat ketika azan subuh di kumandangkan, kami tiba didekat masjid Nurul Khitab Awal hay sabi’. Di sana kami diturunkan dan digiring ke sebuah kantor. Saya kemudian minta izin untuk wudhu dan sholat, para mabahits itu semula tidak mengizinkan, namun akhirnya dibolehkan. Sepuluh menit menunggu, akhirnya dua orang anggota polisi berpakaian preman datang, satu-persatu mata kami diikat menggunakan kain sambil membentuk satu barisan.

Selang beberapa saat kami digiring ke sebuah ruangan berukuran 4×4 meter. Tempatnya sangat kotor dan pengap, disitulah kami tidur sambil duduk dan tidak boleh melonjorkan kaki hingga pukul delapan pagi. Pada jam diatas kami diberi makan berupa roti ‘isy ( makanan pokok orang Mesir yang terbuat dari gandum) serta sedikit manisan dengan mata tetap tertutup kain.

Setelah sarapan pagi, proses introgasi dimulai. Satu-persatu kami dipanggil. Saat itu kami berjumlah sembilan belas orang. Kami berempat; saya (Fathurahman-red) Yunus, Arzil dan Tasri Sugandi, dua orang berkebangsaan Prancis, seorang dari Kanada, lima orang dari Aljazair dan sisanya dari warga Rusia.

Berselang satu jam setelah azan Zuhur, giliran saya di panggil ke ruangan introgasi. Dengan mata tertutup saya dituntun salah seorang polisi ke suatu ruangan. Saat tiba di ruangan introgasi kemaluan saya langsung disetrum. Kemudian penutup mata saya dibuka sedikit, lalu dihadapkan ke sebuah meja, disana terdapat poster Syeikh Ahmad Yasin. Mereka bertanya, ini milik siapa…? saya jawab, “milik Ismail, orangnya sedang liburan ke bukit Sinai”.

Seketika itu juga pantat saya disetrum beberapa kali, kemudian baju saya dilepas paksa oleh salah seorang polisi dan penutup mata saya di ganti dengan baju tersebut. Sementara itu celana saya dilepas dan dipaksa duduk di lantai dalam kondisi tanpa pakaian sehelaipun. Kaki saya di selonjorkan sedikit lalu diikat oleh salah satu polisi dengan tali sabut hingga membekaskan luka, sebab, saya selalu meronta menahan sakit saat disetrum. Masih dalam kondisi duduk, tangan saya ditarik kebelakang, kemudian diikat dengan celana yang yang tadinya dilepas paksa.

Saya dibaringkan dengan tangan terikat. Tepat di paha kiri saya di letakkan sebuah kursi. Mata saya yang sudah di tutup menggunakan baju, ditutup lagi dengan tangan oleh salah seorang polisi. Tangannya yang menggenggam kuat agak mengenai hidung, hingga beberapa kali saya menepisnya karena agak mempersulit saya bernafas.

Sesaat kemudian introgasi kembali dimulai dengan bermacam-macam pertanyaan, diantaranya sebagai berikut :

– Dimana kamu sholat, di rumah atau di masjid?, “sebelum sempat menjawab ujung kemaluan saya disetrum, tak ayal lagi saya menjerit sekuat-kuatnya menahan sakit.

– Apakah kamu sholat di awal waktu…? Kalau saya mood dan lagi enak badan ,jawab saya, namun belum sempat saya meneruskan jawaban, kembali kemaluan saya disetrum. Saya berusaha menutupi kemaluan dengan tangan walaupun terikat, namun seketika itu pula beberapa kali setruman mendarat di tangan kanan saya hingga menyebabkan luka.

– Apakah kamu sering hadir ke kuliah…? Saya kuliah pada waktu tertentu, ketika… cress…setruman itu kembali bersarang ke buah kemaluan saya, hingga beberapa kali pertanyaan yang tidak masuk akal dilontarkan, sebanyak itu pula buah kemaluan saya disetrum.

Sesi berikutnya, alat setruman diambil alih oleh polisi yang lain dengan pertayaan- pertanyaan konyol lainnya:

– Apakah kamu main bola bersama Ikhwan (Nama salah satu kelompok oposisi di Mesir)…?, kamu main bola dengan siapa…? Habib, Jaid atau kamal Mesir…?, tidak…! jawab saya. Kembali setruman mendarat, kali ini di bagian paha kiri saya.

– Kamu punya teman orang Mesir ya.? Tidak…!, Bohong kamu…!, setruman tetap dihujamkan ke paha kiri, hingga menyisakan luka parah sampai saat ini.

– Kamu kenal dengan Osama Bin Laden? Tidak…(setruman dialihkan ke perut kiri).

– Gimana kabar jihadnya sekarang? Saya tidak tahu, saya di Mesir ini hanya main bola, jalan- jalan, chating dan lain-lain.

– Kenapa kamu tidak main bola sama orang mesir? mereka main bolanya bagus-bagus dan badan mereka besar-besar, sementara badan saya kecil.

– Kamu Ikhwanul Muslimin…? Tidak…! kamu Ikhwanul Muslimin kan…? Tidak…! kamu Ikhwanul Muslimin…? Tidak…! Tidak…! kamu Ikhwanul Muslimin kan…? Tidak…! kamu Ikhwanul Muslimin…? Tidak…!

Begitulah setiap kali pertanyaan saya jawab, seketika itu pula mereka memberikan setruman satukali, duakali, tigakali bahkan lebih, tepatnya di paha kiri, perut bagian kiri, serta di kedua puting susu saya. Setelah di setrum berkali-kali seperti itu, saya merasa sudah tidak kuat lagi, sedemikian sakitnya saya sempat memanggil, “Ibu…, Ibu…, Ibu…” hingga beberapa kali.

Setelah penyiksaan berlangsung lebih kurang 15–20 menit, ikatan saya di lepaskan sementara kondisi badan saya sangat lemah, dihantui rasa takut, cemas dan juga trauma. Celana saya dipasangkan kembali tanpa baju. Selanjutnya mereka membuat berita acara kira-kira selama lima menit. Saya di kembalikan ke tempat tahanan awal, saat itu masih di penjara depan Masjid Nurul Khitab, Bersebelahan dengan Universitas Al Azhar putri, di kawasan 7th district. Penjaranya itu terletak di bawah tanah, tepatnya di bawah hadiqah ‘asyir Ramadhan-sebuah taman rekreasi yang berada di tengah kota.

Masih di ruang tahanan saya berdo’a semoga tidak di introgasi untuk kesekian kalinya. Sambil menangis dan merenungi dosa selama ini, saya hanya mampu terkulai lemah. Selang dua puluh menit kemudian, kembali saya dipanggil bersama dua teman satu rumah, Yunus dan Tasri Sugandi. Di introgasi kali ini punggung saya kembali di pukul dengan sebuah papan triplek tipis. Kali ini mereka cuma mencatat data pribadi kami. Sepuluh menit kemudian kami di kembalikan ke ruang tahanan.

Tiga puluh menit selanjutnya saya kembali dipanggil dan diancam akan di setrum seperti sebelumnya jika tidak menjawab dengan jujur. Satu pertanyaan saja yang mereka lontarkan :

– Apa hubungan Osama Bin Laden dan pengaruhnya di indonesai? Sambil setengah menangis saya menjawab, “saya tidak kenal Osama Bin Laden…!”

Detik berikutnya sang polisi tersebut menelpon entah kemana. Yang saya tangkap dari pembicaraannya, si penelepon meminta data dan menyebutkan ciri-ciri tentang saya. Selang beberapa saat, saya kemudian di bawa kembali ke ruang tahanan dengan mata tetap tertutup.

Dua jam berikutnya, kami diberi nasi berpiringkan ‘isy, masakan daging serta sedikit buah anggur merah. Saya makan sekedarnya walaupun sempat di tambahkan nasi. Setalah azan Isya, kami ketiduran namun mendadak dibangunkan dan di paksa makan ‘isy, selai dan keju. Beberapa teman yang satu tahanan kebanyakan mogok makan, namun di paksa menghabiskan dengan alasan biar kuat. Saya sempat terpikir jika dikasih makan banyak seperti ini, berarti persiapan untuk besok agar kuat di introgasi lagi.

Pemindahan dari penjara Nurul Khitob ke penjara Hay Assadis (6th District))

Diperkirakan pukul 11.00 malam waktu Cairo hari itu, kami semua di pindahkan ke penjara Hay Assadis. Saat hendak di pindahkan saya masih tidur, lalu sontak saja dibangunkan. Kami diperintahkan untuk berbaris satu deretan dengan tangan saling memegang pundak teman yang ada di depannya. Kami digiring ke mobil khusus tahanan dengan mata masih dalam keadaan tertutup dari pagi.

Di dalam mobil, penutup mata kami dibuka dan ternyata di sana sudah terdapat salah satu perwira polisi yang menunggu lengkap dengan senjata laras panjang. Lima belas menit perjalanan kami tiba di kantor polisi Hay Assadis, lalu dipaksa turun dengan membuat dua barisan.

Setelah pendataan usai, kami dijebloskan ke sebuah tahanan yang berukaran 3,5 x 4 meter, lalu di isi sembilan belas orang tahanan. Di dalamnya terdapat WC, sebuah lampu penerang 5 watt serta satu lobang udara tanpa jendela, sehingga kami tidak bisa membedakan antara malam dan siang. Selama dalam tahanan ini kami tidak disediakan makanan ataupun minuman, hanya ada air di kamar mandi yang bisa di gunakan untuk bertahan hidup. Selama dua hari dalam tahanan tersebut kami harus beli makanan sendiri melalui polisi penjaga tahanan.

Dengan sisa uang yang kebetulan terdapat dalam kantong kami berusaha membeli makakanan (kami berhutang dengan jaminan ada uang saudara Tasri Sugandi yang disita lebih kurang 700 le). Selama dua hari hanya dua mangkok kusyari (sejenis makan mesir terbuat dari mie) yang kami dapatkan sekedar untuk mengisi perut. Alhamdulillah selama dalam penjara sholat lima waktu selalu kami lakukan berjamaah.

Pada hari rabu tanggal 1 Juli dini hari, tepatnya pukul 02.00 malam waktu Cairo, kami di bebaskan dengan beberapa pesan :

  • Jangan belajar dan kumpul-kumpul bersama Ikhwan al -Muslimin.
  • Kalian cukup belajar saja selama di Mesir.
  • Jika sempat ditangkap kembali kalian akan dipulangkan.

Keluar penjara kami langsung menyetop taksi bersama satu orang lainya yang berkebangsaan Rusia, kebetulan beliau tinggal di Tub Romli, tempat kediaman kami. Tepatnya Pukul 03.00 dini hari waktu Cairo, kami tiba di rumah dengan selamat berkat pertolongan dari Allah SWT serta do’a dari teman-teman semuanya.

Demikianlah kisah penangkapan dan penyiksaan yang kami alami selama berada di penjara, kisah penyiksaan yang dialami rekan saya, Muhammad Yunus belum sempat saya tuturkan di sini. Dan memang tidak semua rekan saya yang ditangkap turut mengalami penyiksaan serupa, hanya saya saja yang mengalami penyiksaan melampaui batas dan melanggar HAM serta tidak manusiawi.

Saya hanya bisa pasrah menyerahkan semuanya kepada Allah Yang Maha Kuasa atas kezholiman yang mereka lakukan kepada kami semua. Doakan kami, agar tetap tabah dan sabar dengan trauma penyiksaan yang sering menghantui. Semoga ada tindak lanjut dari perwakilan pemerintah kita, KBRI di sini terhadap kasus yang kami alami, sehingga mahasiswa kita khususnya di Mesir tidak lagi ditindas dan dilecehkan.

NB : Kisah ini disampaikan langsung oleh saudara Fathurrahman dan Muhammad Yunus (mahasiswa tingkat akhir) serta Arzil dan Tasri Sugandi (Mahasiswa baru yang datang dari tanah air pada tanggal 5 Mei 2009). Penulis menyaksikan dan melihat langsung kondisi korban di tempat kediaman mereka di kawasan Tub Romli, bersama beberapa anggota KSMR (Kelompok Study Mahasiswa Riau) dan beberapa orang KPTS (Keluarga Pelajar Tapanuli Selatan) yang hari itu turut datang menjenguk. Wasallam. Cairo, 2 Juli 2009.

 

sumber: eramuslim.net

“Seteguh akar,selembut sutera”

Suatu masa, satu persoalan dilontarkan. Apa ada pada seorang wanita?

munajat

Duhai wanita,
Hadirmu sentiasa membentuk suasana,
Sentuhanmu mampu mengubah dunia,
Kata-katamu laksana siraman cinta,
Engkaulah sebaik perhiasan dunia…seandainya..
Engkau adalah wanita muslimah
Yang mengimani sang pencipta Allah
Yang memengang prinsip tanpa mengalah
Walau disogok dengan sejuta mehnah
Engkau tetap melangkah
Melaksanakan tarbiah dan dakwah
Yang tidak mengenal erti lelah
Mendidik generasi qudwah…
Biarpun engkau tidak sehebat sahabiah
Yang hebat pengorbannya
Yang petah dan indah dalam bicara
Yang sanggup korban segala
Demi janji dan cinta pada yang Esa
Namun..
Engkau yakin engkau adalah diantara yang teristimewa
Laksana permata dicelah kerdipan kaca
Engkau terpilih diantara berjuta
Untuk mendokong agamaNya
Walau payah menerpa
Walau sakit menggugah jiwa
Walau tersempit dihimpit dunia
Namun..Engkau tetap memengang janjimu padaNya
Kerana..
Engkau yakin janjiNya untuk bertemu disyurga..
Dengan itulah..engkau menjadi
Seteguh akar,selemnut sutera
Teguh berpegang pada prinsip dan kepercayaan
Teguh menghadapi dugaan demi mempertahankan
Teguh berdiri tanpa anjakan
Teguh mencengkam sebuah keyakinan
teguhnya dirimu..
Dihiasi dengan kelembutan..
Lembut dalam ketegasan
Dihiasi dengan hikmah senyuman
Akhlak mahmudah sebagai pakaian
Dengan itu… engkau telah membuktikan
Hadirmu..
Adalah sebuah perjuangan yang dinantikan..
Yang titik nokhtahnya engkaulah yang tentukan..
Kerana jalan hidup ini adalah pilihan..
Justeru itu…
Seandainya engkau mengerti,
Hakikat hidup ini
Pilihlah untuk menjadi dai’
Kerana tidak ada satupun yang kita miliki
Selain yang diberi
‘izzahlah, berbanggalah dengan kewujudan diri
Kerana mulianya kita adalah kerana deen islam ini..
Berdoalah..Semoga Allah mendidik diri
Menetapkan setiap nubari
Untuk terus mengembankan agama ini
Agar..
Diakhirat nanti..
Kita punyai jawapan cinta
Untuk dipersambah pada yang Esa
Sebagai bukti cinta kita
Untuk bertemu ditelaga Syurga..
Ameen ya rabbal ‘alamin..

Apa yang ada pada seorang wanita?..jawapannya ada pada setiap wanita itu sendiri. Wanita itu lebih berhak memberi jawapan akan perihal dirinya. Dia juga berhak menentukan pilihan dan perjalanan hidupnya sendiri. Sebagimana dia akan dipertanggungjawabkan bagi setiap amalan yang dia lakukan…

Semoga Allah mencerahkan setiap qalbu wanita dimuka bumi ini dengan wahyuNya, agar islam kembali lagi..

kerana wanitalah pendidik generasi…

Untuk apa nafas ini dihembus?

Hidup kita ini sebenarnya untuk apa? Tanya hati kecil . Hanya sekadar hidupkah? Menghabiskan sisa-sisa waktu menunggu hari tua..atau kita ini punyai misi dan visi dalam setiap nafas yang kita hela?Sewaktu dalam kesungguhan kita meneruskan hidup yang penuh dengan cabaran ini, rupanya masih ramai antara kita dan teman-teman kita masih belum tahu dan memahami kenapa kita diciptakan. Bagi yang belum tahu wajarlah kita memberitahu mereka, tetapi bagaimana pula bagi yang sudah tahu? Ada juga yang sudah tahu tetapi tidak memahaminya.., jika mereka memahami pastilah mereka akan mengamalkannya dalam setiap kehidupan mereka.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. Iaitu orang-orang yang mengingati Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “ Ya Tuhan kami, tidaklah engkau menciptakan semua ini sia-sia: Maha suci engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (3:190-191)

Tiada satu pun penciptaan Allah dimuka bumi ini tanpa tujuan dan matlamat. Setiap satunya memiliki amanah yang besar yang dikurniakan Allah pada mereka. Bagi sesetengah insan, amanah dirasakan tanggungjawab yang cukup berat (ya, sememangnya berat). Kerana , pada suatu masa amanah itu akan dipersoalkan dan diadili di mahkamah Allah. Tetapi, ajaibnya seorang mukmin yang memiliki pencerahan iman, amanah itu dilihat sebagai satu sentuhan cinta dari Allah. Kerana dengan amanah itu, dia mampu mendekatkan diri dengan Allah,membangun potensi diri serta merasai betapa manisnya saat diuji dan ditarbiah oleh Allah semasa menunaikan amanah tersebut. Hebatkan?

Tetapi, berapa ramaikah insan yang mampu berfikir begitu.

Ingin sekali berkongsi pengalaman semasa didalam ward.Kalau sebelum ini, saya memang tidak suka membuat bedpen “mencuci najis, memandikan”. Kerana sebab utama, saya tidak tahan dengan bau yang busuk itu. Tekak saya akan kembang dan mata akan berair. Silap-silap saya boleh muntah depan pesakit. Tetapi, hati kecil saya sering memujuk.. “ lakukan dengan ikhlas”. Biar manusia nampak, kerja nurse kerja kotor, basuh punggung orang, etc..(stigma masyarakat). Tetapi, betapa besarnya nilai itu disisi Allah bukan?

Dengan semangat itulah, saya mampu bertahan sehingga saya selesai menunaikan amanah itu. Mereka semua pesakit saya yang ‘mesti’ saya jaga.Tidak diduga, Allah akan menguji keikhlasan hati kita dengan bermacam-macam cara. Contohnya, pesakit saya mengada-ngada, suruh gosok disitu, disini, padahal dia mampu berbuat sendiri. Pada masa itu, perasaan mual menyelubungi diri, dengan tidak tahan baunya, banyak cakapnya, keadaan yang panas (tutup kipas).. saya berhenti sejenak. Keluar dari kain langsir dan menarik nafas. Teman saya pun begitu. “Sabar ok.” Kami memujuk diri kami. Alhamdulillah berjaya juga kami selesaikan misi itu. Apa yang kami dapat? Kepuasan.. Ya, kerana melakukan amanah yang sepatutnya kami lakukan.

Walau apapun, siapapun diri kita. Setiap dari kita memiliki amanah itu.

Saya berasa sedikit kesal dengan nasib kita, kami dan diri saya sendiri kerana kebanyakan dari diri kita telah dididik sejak dari kecil agar belajar menjadi bijak menulis jawapan-jawapan di kertas peperiksaan. Kita tidak diberitahu, diajar dengan praktikalnya, bahawa “berjayanya” hidup kita bukan dengan hanya mendapat A1 dalam semua subjek, bukannnya dengan mendapat 4.o, bukannya dengan mendapat distinction,bukannya dengan mendapat gelaran “prof,dato’,dr…etc” tetapi, berjayanya kita apabila kita mampu memaknai hidup kita dengan acuan yang ditetapkan Allah. Tidak kisah siapa pun kita. Tukang cuci ke, peguam ke, blogger ke, cikgu ke..anyone.

Kesannya, ramai teman-teman hari bertungkus lumus, bersungguh-sungguh belajar ke menara gading. Mereka yang berada di menara gading pula, bersungguh-sungguh,berhabis-habisan mahu mendapat gred yang baik untuk menyambung pelajaran lagi. Alhamdulillah bagus sekali semangat ini. Semangat berkobar-kobar untuk menuntut ilmu. Tetapi, sedihnya, hanya berapa kerat insan yang benar-benar beramal dengan ilmu mereka? Selebihnya, meletakkan ilmu tertulis dibuku, disijil, bukan diasimilisasi dan dihadam untuk kehidupan harian (bukan menjadi akhlak mereka). Suasananya, timbullah study just for da sake of Examination. Cikgu pun mengajar untuk topik-topik yang masuk examination sahaja. Jadi wujudlah suasana examination oriented .

Sedihnya, semangat belajar hanya betul-betul berkobar apabila mahu examination, bukan berpanjangan. Selesai sahaja examination.. “fuh, lega..”. Maka bermacam-macamlah aktiviti dirancang untuk menghilangkan stress semasa belajar tadi. “ keluar makan, berkelah, shopping, tengok cerita korea etc…”.. Seorang teman berkata “ Mana bole study terus.. otakpun penat juga. Perlu rehat..” Ada benarnya dalam kata-katanya. Tetapi, oleh kerana jiwa-jiwa muda ini tidak didik dengan misi dan visi terbesar kehidupan mereka,mereka akan mudah kalah dengan kelemahan fizikal mereka. Mereka akan mudah tenggelam dalam perjuangan yang tidak berpenghujung ini.. Berbeza bagi insan yang dididik, yang tahu dan “benar-benar “faham setiap hembusan nafas itu memilki amanah dan tujuan untuk diselesaikan. Maknanya, mereka tahu apa peranana dan visi mereka dalam hidup. Mereka ini, tidak akan berhenti sehinggalah mati yang akan datang menjemput mereka. Kerana hanya matillah tempat mereka berehat. Selagi belum mati,mereka akan terus berjuang.

Alangkah indahnya, jika semangat ini, ruh jihad ini mampu ditiup ke dalam setiap nafas-nafas kita. Agar kita sedar betapa masih jauh perjalanan kita. Betapa masih panjang cita-cita untuk kita capai. Kerana apa? Kerana Islam masih lagi diinjak, dipijak, dihentam. Betapa ramai saudara-saudara kita diseksa, dibunuh tanpa belas kasihan. Betapa ramai adik-adik kita dinoda nilai akhlaknya, malah disuntik dan dipakaikan dengan pakaian-pakaian jahiliah. Redhakah kita dengan keadaan itu?

Jika tidak, kenapa kita masih lagi boleh bersuka-suka, bergelak ketawa, malah masih berani lagi membelakangiNya… Jika itu, tunggulah!! Tungguhlah datangnya siksa dari Allah.

Jika tidak, bangunlah saudara-saudaraku..sedarlah. Kita punyai visi yang lebih besar.. yang memerlukan jiwa-jiwa yang besar..Untuk apa? Untuk Allah dan agamaNya. ISLAM.

Ayuh, sedarlah saudaraku…setiap nafas yang kita hembus itu adalah janji amanah kita kepada ALLAH..

“Mencari redha Allah….”

Merenung seketika..

Begitu cepat masa berlalu. Rasa bagai semalam baru bangun dari mimpi dan impian tetapi hari ini seharusnya berjuang dan mengembara tanpa menoleh lagi kebelakang. Masa berlalu tanpa menunggu diri sama ada sedia atau tidak. Yang tidak bersedia akan tertinggal dibelakang dan terus tenggelamm sekiranya tiada usaha yang melonjakknya ke hadapan. Tetapi bagi insan yang sentiasa bersedia menghadapi sebarang kemungkinan yang mendapani pasti akan lebih tenang.
Itulah kita, terkadang kita terasa amat payah dan berat sekali untuk menunggu hari esok. Terasa takut untuk menanti pancaran sinar pagi yang pastinya kita yakin sang mentari akan terus memancarkan cahaya yang terkadang memedihkan mata kita. Terutama pabila kita melihat kearahnya. Tetapi disebalik itu, cahaya itu adalah kehidupan bagi tumbuhan hatta pada diri kita sendiri. Hakikatnya, hati kita kerap kali buta untuk melihat setiap perjalanan yang Allah aturkan itu amat hebat. Sehingga, tiada sesiapapun yang dizalimi.Walau makhluk itu, kerap kali mendurhakai Pencipta yang Agung. Namun, kasihnya pencipta pada semua makhlukNya mengatasi segala. Segalanya dilimpahi dengan curahan cinta dan lautan kasih sayang yang tidak pernah kering,walau terselit derita. Derita bukanlah mahu menghukum, tetapi kifarah dosa untuk bekal menemuiNya dalam keadaan suci dari noda dan dosa.
Saya selaku seorang pelajar meneruskan tugasan harian yang begitu banyak terbeban dipundak ini. Terkadang terasa amat berat sekali. Sehingga berat hati ini mahu menduga, kaku kaki ini untuk melangkah, mata kepedihan menahan aliran air mata, badan sakit seluruhnya..tetapi, jauh disudut hati yang kecil berkata.Kesakitan ini tidaklah lama, kepayahan ini tidaklah sesusah Sang Rasul suatu ketika dahulu, apalah sangat usaha dan penorbanan ini..apalah sangat kesakitan ini jika mahu dibandingkan dengan siksa dan azab neraka. Jika kesakitan ini, kepayahan ini, tangisan ini, dukanya hati sebegini sebagai kifarah dosa..betapa ringannya. Apatah lagi berkorbannya diri bukanlah sehebat berkorbannya Rabiatul Adawiayah membuktikan cintanya pada ALLAH.Bukanlah sehebat Amru bin Jamuh bercita-cita telinga dan hidungnya dipotong musuh sebagai saksi untuk bertemu dengan Allah.. Namun, tertanya kembali, apa pengorbanan ku sebenarnya?
Mahu bersengkang mata bermunajat padaNya amat payah sekali. Merasai kelazatan disepertiga malam, jarang sekali.. Mahu menahan nafsu makan,pakai.. sering sahaja tewas. Nafsu tidur yang bermaharaja lela…segala-galanya tidak jelas, apa sebenarnya pengorbanan diri pada Allah.
Ya Allah, terasa kerdil sekali diri ini. Terasa jauh sekali mahu menggapai cintaMu. Terasa amat tidak layak sekali mendambakan cintaMu. Tapi, Ya Allah,pada siapa lagi yang mengerti dan memahami hati kecil ini selainMU? Pada siapa lagi yang mampu menolongku selainMU? Kepada siapa lagi harus ku sandarkan hati dan harapan ini selain dari Mu? Dengan itu Ya Allah… walau seburukmana diri ku ini,janganlah engkau biarkan ku sendirian… jangan biar aku terjun ke dalam lubang neraka. Selamatkanlah aku sebagaimana yang pernah Engkau pernah selamatkan ku suatu ketika dahulu. Ya ALLAH….Temukanlah cintaMu padaku…Ku mengharap Ya Allah…
“wa kafa billahi waliyyan, wa kafa billahi shahida, wa kafa billahi nashiro”
Mencari redha Allah…

Mak rempit terlantar…

 

 Terasa boring juga petang itu, saya mundar-mandir disekeliling meja pesakit membelek folder mereka. Dalam otak sebenarnya kosong, nak tengok kes mereka pun sebenarnya nak tidak ada mood pun.  Balek-balek pun sebab takut  staff nurse tengok student UIA ni pemalas pulak.( Astaghfirullah,hipokrit pulak..susahnya nak ikhlas..)

 Ditambah pula melihat tulisan doctor yang kebanyaknnya susah nak faham. Tetapi, mata ini tidak ketinggalan menjeling  kearah  katil seorang pesakit. Nampak masih lagi muda. Mungkin sebaya dengan saya atau senagkatandengannya. Disisinya ada dua orang gadis yang setia menanti. Seorang manis tersenyum melihat para nurse, tetapi seorang lagi masam mencuka. Saya sengaja menghampiri mejanya ,lalu membelek folder kes pesakit itu. Pesakit lelaki itu terlantar dengan keadaan kaki kanannya yang terdedah. Ada kesan goresan yang besar. Saya dah dapat agak, tentu lelaki ini terlibat dalam kemalangan. Ditambah pula folder kesnya yang berwarna merah.

                Dia tersenyum-senyum apabila saya melihat foldernya. Pantas tangan saya melihat historynya. Terkejut juga lihat umurnya baru 17 tahun(Muda lagi dari saya..) Terlibat dengan kemalangan kerana di bawah pengaruh alcohol. Saya menghela nafas panjang. Saya mengangkat muka melihatnya. Dia masih lagi tersenyum lagi membariskan gigi kerangnya.

                “Kak , berapa tahun lagi belajar? Akak jadi doctor eh?”.Modal dia memancing.Saya tersenyum kelat.(bagaimana agaknya ya..tersenyum kelat??).Memang sudah menjadi kebiasaan dengan soalan sebegitu memandangkan baju kami sedikit berbeza dengan baju nurse KKM. Ramai juga yang menyangka kami ini doctor pelatih. Tak kurang juga yang menyangka kami ni students Petronas memandangkan seluar kami sama warna dengan warna pertronas.Tapi kami tak kisah pun.

                “Lambat lagi. Akak bukan doctor, akak nurse.”Simple sahaja jawapan. Nanti melalak jauh pula.

                “Tu siapa? Adik?”Saya cuba melihat dia dari sudut lain.

                “Yang tu adik saya.. Ni makwe saya.” Tangannya menunding kearah adiknya yang berada dihujung katil sebelah. Adiknya senyum kepada saya. Saya balas.Manakala perempuan yang di dakwanya itu kekasih hanya diam seakan mengiakan kenyataan lelaki itu.Memang dia masam mencuka. Tercuit juga hati saya melihat dia.. entahlah.. begitu setia untuk seorang lelaki yang masih lagi belum bergelar suami..

                “Kak, dia ni.. tak berapa elok mood.. nak datang bulan kot?”Tergelak-gelak dia. Saya hanya tersenyum dan seraya itu perempuan itu pantas mencubitnya. Dia ketawa lagi. Saya terdiam. Mesra sekali. Menjaga seorang lelaki bagaikan suami sendiri. Pedih juga hati ini melihat. Entah lah.. mungkin sayu pun ada… apa lah agaknya, jika semua remaja sebegini. Mana perginya nilai agama? Mana norma kehidupan ketimuran? Mana ibubapa mereka? Mana didikan mereka?  Soalan yang tiada jawapan.

                Dalam masa yang sama, hatiku bergetar. Macam mana nak dakwah ni? Takkan tengok sahaja.. Mahu saja saya pergi dekat dan Tanya.. “Dik tak takut api neraka ke? Dok pegang-pegang macam tu..” Tapi.. tak buat pun.. Macam -macam perasaan yang berperang dalam hati ini. Macam-macam konsikuensi yang di jangka. Takut kena herdik la… Ya Allah.. tak da kekuatan lagi ni.

                Hari itu, rasa sedih sangat sebab tak mampu nak dakwah adik tu. Tetapi, siapa yang patut dipersalahkan? Mereka sendiri? Ibubapa mereka? Kerajaa? Atau saya sebab tak buat dakwah? Kalua semua orang buat dakwah.. kalau semua orang ambil peduli, takkan ada lagi generasi seperti ini. Tapi, bila semua itu akan terjadi?

Makcik sakit..

Cerita 5

 Entah kenapa hari saya semangat sangat nak pergi kerja. Walaupun study or preparataion tak buat pun. Tak apa semangat dulu barau usaha ( ha..pandai la..). Macam biasa, hari itu, di ward 7 B. Ward medical female. Nak tahu tak ,benda yang paling saya tak suka buat adalah observation, bedpen dan seangkatan dengannya. Kalau ada staff nurse yang suruh saya buat, kalau saya mampu lari..saya akan cari alas an. Tapi, kalau dah tak boleh ..terpaksalah saya buat juga.

Mesti pelikkan kenapa saya tidak suka ambil observation. Salah satunya sebab kena pakai stethoscope..Saya tidak selesa apabila kena sumbat dalam tudung. Silap-silap Nampak rambut. Paling syaa tidak suka. Seksi.Tapi, apa boleh buat…kena buat juga.

Hari itu, saya mundar mandir satu ward, macam tak ada keje..Walau pada hakikatnya  kerja banyak.Tapi saya tidak tahu nak buat. So,berjalanlah… dari hujung ward ke hujung ward lain ..jadi mandur. Silap-silap tolong staff nurse tarik katil-tolak katil..Tu la.. kerja  kami yang masih kurang ilmu di dada ni. Tapi ada bestnya buat kerja itu. Memang best kalau kita enjoy, even di mata orang lain benda itu tidak best mana pun.

 Tiba-tiba kakak staff nurse panggil saya yang duk rancak berbual dengan seorang mak cik selaku patient dalam ward tu. Saya mengekori nurse tu…

“Dik awak teman saya gi tolak katil ni… tu pakcik tu  nak naik katil tu.Mabil selipar dia letak katil dia. Nnati hilang pulak…” Arahan dari kakakstaff nurse ti bertubi-tubi. Dan saya adalah seorag yang patuh.. maka dengan semangatnya mengikut setiap arahan. Lagipun, kakak tu pandai ambil hati…suruh tidak ada la suruh dengan dengan nada yang garang macam sesetengah nurse..tapi dengansenyuman dan kasih saying sebagai seorang senior.. Baru betul…

“Pak cik naik cepat.” Arah saya pada pak cik tu supaya naik katil, memandangkan dia boleh bergerak dna berjalan. Pak cik tu senyum pada saya yang tak comel ni…Saya senyum balik. Hehe…(apa maksudnya??..ntah!!)

Sesampainya,di unit hemodialysis, kami masuk ke dlaam bilik neurologi. Belum lagi kami tolak pintu, tiba-tiba doctor keluar dan tolong tarik pintu tu.. Dia senyum kat saya lagi..Saya agak peli, kenapa semua orang yang saya jumpa hari ini adalah orang-orang manis dan ikhlas belaka?? Pelik… Tapi, tanpa menunujukkan muka pelik saya senyum balik dekat doctor  itu. (Jangan salah faham,dia dah tua.. sebaya dengan pak cik saya kot).

“Dik tolong kakak tu change katil….” Arah doctor tadi. Saya yang menurut perintah dengan pantasnya masukke bilik dan meolog seorang mak cik yang juga dari ward saya. Dia menagis…saya pelik.. kenapa???

Tanpa bertanya, saya tolak sahaja kerusi roda itu dan parking di kerusi luar ayng tidak ada orang. Saya tunggu staff nurse ambil laporan, sementar pakcik itu pula yang masuk buat procedure.

Dengan berani saya pegang kerusi sisi mak cik.

“Mak cik kenapa nangis??”Tanya saya. Dia masih lagi nangis. Pantas sahaja dia mengelap air matanya dengan tuala yang berada ditengkok. Saya lihat kedua belah tengkoknya seolah ditebuk dan dibuat procedure tertentu.. saya dapat mengagak kenapa mak cik itu menagis. Dia sakit…

“Mak cik, sabar banyak-banyak ye…”

“Mek ..mek tidak tahu…sakit…sakit…lama dah makcik sakit…” Air matanya lajumengalir…saya terharu (ish kan saya pulak yang menagisnya..jangan-jangan,  nurse mesti kuat). Staff nurse berada di kaunter melihat lakonan kami.

“Makcik, kuat…sabar mak cik..” Dia menyamput dari kaunter.

“Mak cik, ingat Allah banyak-banyak.. Allah saying ma cik ni. Mak cik beruntung kerana Allah uji mak cik dengan kesakitan. Sebab dengan sakitnya dosa-dosa mak cik terhapus. Sedangkan orang sihat macam saya ni terus lalai dari Dia… Makcik sabar ye…Ramai lagi orang lain yang lebih sakit dari mak cik..sabar ye ak cik” Nasihat saya. Staff nurse tengok pada saya. (salah ke ayat-ayat saya tadi??). Makcik itu pantas mengesat air matanya smabil mulutnya beristighfar. Dia sedar,… tapi mungkin kesakitan yang menyebabkan dial alai seketika.